TW: domestic violence (past), parental abuse & neglect, divorce, broken home, emotional distress, swearing.

Read at your own risk. Previous chapter: ****https://worldofpotter.id/topic/view/4f561da8-b81c-429f-9f35-855561b874e3

Sincerely, Charity.


Ragnar Sørensen’s POV.

Matahari mulai terbenam. Sepasang iris biru Ragnar menatap punggung kecil yang menjauh. Langkah bocah McLaggen itu sedikit tertatih, dan sempat pula Ragnar menyadari merahnya mata Frederik ketika berbincang dengannya, meski bocah itu berusaha menutupinya sekeras mungkin. Aneh. Ragnar bahkan mempertanyakan apakah kata-katanya ada yang kurang berkenan di hati sang singa muda.

Ragnar hanya mengibaskan tangan ketika rekan satu timnya berujar, “Duluan, Nar.”

Ragnar menghela nafas singkat. Ia memutuskan untuk kembali ke tribun dan duduk di bangku yang sebelumnya ditempati olehnya dan Frederik. Ia duduk bersandar sembari menatap langit yang kini berwarna jingga. Sesungguhnya tadi ia ingin bertanya mengapa si bocah McLaggen penasaran akan nama ayah—bukan. Derrek Sørensen tidak pantas untuk disebut sebagai seorang ayah. Ragnar benci sekali dengan sosok tersebut.

Dan Ragnar tidak bodoh.

Sang elang muda menyadari gerak-gerik Frederik yang tampak gelisah dan terkejut ketika nama bajingan itu dilontarkan olehnya. Ada yang salah, pikirnya. Di tengah-tengah percakapan juga, ia sadar Frederik berusaha keras untuk menahan tangisnya. Ragnar benci jika seseorang menangis karenanya.

Atau, bukan ia penyebabnya, melainkan bedebah bernama Derrek Sørensen.

“Si bajingan itu ngapain, sih?” Ragnar mendengus. “Kenapa anak orang sampai takut begitu? Beruntung Mama ceraikan.”

Helaan nafas yang terdengar berat dilepaskan. Lapangan sudah sepi. “Hobinya keluyuran sana-sini. Enggak mau menafkahi kami. Pernah mukul Mama pula. Memang bajingan.” Ragnar mengumpati sosok ayah kandungnya. Berang. “Aku percaya dia pindah ke Kopenhagen buat cari cewek-cewek cantik. Mata keranjangnya itu enggak pernah puas.”

Ragnar terdiam, sesaat kembali mengingat bentuk wajah Frederik. “Tapi bocah itu…” Bak tersambar guruh, laki-laki berumur tujuh belas tahun itu mematung setelah menyadari sesuatu. “Bocah itu mukanya mirip Derrek.”

Ragnar mengernyit, mendadak pusing. Ia refleks memijat pangkal hidungnya dengan mata yang terpejam. “What the fuck is going on…”